Selama hampir tiga tahun tinggal di Bali, cuma satu hal yang membuat saya selalu mengeluh, marah dan seringkali memaki. Hal itu adalah lalu lintas berikut isinya. Seperti pagi ini contohnya, persimpangan di Simpang Siur dari arah Gelogor Carik dengan seenaknya ditutup oleh Bapak Polisi Yang Terhormat. Alasannya tiada lain dan tiada bukan pasti adalah Pejabat Yang Nggak Kalah Terhormat itu mau lewat. Dan sudah lebih pasti lagi yang terkena imbasnya adalah rakyat kecil seperti saya ini yang seringkali disebut-sebut dan dibela-bela semasa kampanye partai atau pemilihan pejabat-pejabat itu. Walhasil saya harus memutar arah dulu untuk bisa kembali ke jalur awal yang harus saya lalui. Itu baru satu saja contoh kasus yang membuat saya naik pitam di pagi hari. Kalau pulang kerja, sekitar pukul enam sore, juga selalu ada saja hal-hal di jalan yang membuat saya geram dan geram (maklum hanya bisa geram saja selama ini).
Kalau dipikir-pikir lagi, memang percuma jadi pengemudi/pengendara yang taat di tengah lalu lintas Bali yang amat menyedihkan ini. Menjadi pengemudi yang taat aturan malah sengsara. Mau mengeluh (atau lebih tepatnya mengadu) ke Kepolisian? Kinerja mereka saja masih banyak bobroknya. Beberapa bukti nyatanya adalah sebagai berikut: Read the rest of this entry »





duh paringono sabar Gusti *ngelus2 dada*
