RSS
 

Perempuan Berkalung Sorban by Hanung Bramantyo

24 May

Perempuan Berkalung Sorban

Sore ini diisi dengan menonton film yang belum sempat ditonton. Tetep happy meski cuma via youtube :D . Denger-denger film ini menimbulkan banyak kontroversi di kalangan pesantren/umat muslim sampe sempet dilarang segala. Bang Ichal aja yang kuajak nonton bareng nggak mau (tapi dengan alasan ‘males’). Secara keseluruhan film ini jauh lebih smooth jalannya…dibandingkan dengan Ayat Ayat Cinta (AAC) yang juga garapan Hanung Bramantyo. Bahkan menurutku jauh lebih bagus dibandingkan AAC. Meski orang-orang & temen-temen katanya sampe nangis-nangis nonton AAc, aku kok biasa aja. Malah banyak nggak sukanya secara tekhnis. Sebut saja untuk hal yang paling keliatan dari sebuah film, bagian dialog-dialognya. Di film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) ini, dari segi dialog jauh lebih ‘nyata’ dibanding AAC. Padahal settingnya justru di Indonesia, tapi karena settingnya adalah pondok pesantren dan di Jawa Timur, bahasa yang dipergunakan sangat ‘pas’ menurutku.

Aku memang belum pernah baca novelnya, yang katanya vulgar dan banyak banget yang nggak suka (meski banyak juga yang suka). Tapi pem-visualisasi-annya di film ini sangat sopan & halus. Tidak vulgar sama sekali (masih lebih vulgar film ‘Love’, adegan si Irwansyah & Laudya Cynthia Bella…hahaha). Sebagai seorang muslim juga saya nggak merasa tersinggung dengan cerita-cerita yang diangkat di film ini. Seperti pada saat Anissa (anak perempuan Sang Kyai yang diperankan oleh Revalina S.Temat) yang dilarang berkuda, dilarang kuliah ke Jogja/keluar dari pesantren, dilarang memimpin karena dia seorang wanita. Toh, memang ada saja kenyataan-kenyataan seperti itu di masyarakat kita. Apalagi settingnya tahun 80an. Kalau ada pihak yang merasa tersinggung berarti mungkin memang benar ‘adanya’. Duh please deh…orang yang nonton film ini juga tau kalau ini bukan bermaksud menghina atau menyinggung pihak tertentu. Soal pandangan bahwa pria itu bisa beristri lebih dari satu (poligami), juga kan memang hal yang umum di kalangan masyarakat kita. Sekitar tahun 80-90an toh pencekalan buku-buku yang dianggap menodai kepercayaan juga sudah biasa. Apalagi buku yang diceritakan di film ini adalah karya Pramoedya Anantatoer, yang memang banyak dibredel pemerintah pada saat itu. Mungkin yang membuat PBS ini dianggap menyinggung/kontroversi karena cerita yang diangkat adalah versi tragis kehidupan wanita dan merupakan kumpulan banyak konflik.

Film ini sukses bikin aku tersentuh & meneteskan air mata. Oka Antara yang non-muslim pun sukses memerankan Khudori, seorang muslim yang sangat taat. Bahkan setelah baca-baca di forum-forum di internet, banyak yang mempertanyakan, “Oka Antara thu muslim bukan sih?” “kok fasih banget ya pelafalannya? jadi kayak muslim banget.” Hahaha…pake ‘banget’ gituuu…

Tapi ada yang bikin aku bingung, soal judul Perempuan Berkalung Sorban itu maknanya di mana ya? Mungkin lebih jelas kalo baca novelnya kali ya…karena tidak ada adegan yang menjelaskan maksudnya ‘Berkalung Sorban’.

Akhir kata, meski ditentang MUI, menurutku film ini malah merupakan jawaban atas hal-hal yang banyak diragukan/dipertanyakan oleh masyarakat atas Islam (baik muslim maupun non-muslim), bahwa ‘Islam itu agama yang tidak adil’ atau ‘Menjadi muslimah itu kasihan’ atau ‘Islam itu lebih mengutamakan pria’. Jadi bingung kenapa malah dilarang oleh MUI…:D Mungkin dengan pertimbangan karena banyak masyarakat kita yang belum nyampe pemikirannya untuk nonton film ini…atau takut banyak yang nggak jadi masuk pesantren setelah nonton film ini…hehehe…

For other reviews, please click on below links:
Perempuan Berkalung Sorban
Kontroversi Perempuan Berkalung Sorban

 
6 Comments

Posted in movie

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

 
 
  1. ifta

    July 3, 2009 at 8:16 pm

    bagus ni
    bukunya dulu kubaca waktu aku SMA. sambil sembunyi2 soalnya takut. Kan buku dewasa.
    Tapi bagus, relevan, dan nyata.
    Nggak lebay gitu

     
  2. admin

    July 9, 2009 at 8:18 pm

    :) stuju!
    wah..nemu di mana If bukunya? perpus? aku bisa dibilang jarang pinjem buku perpus sih :D *nyesel datengnya pasti blakangan*

     
  3. ifta

    July 12, 2009 at 8:28 pm

    nemu, punya bapakku. Dikasih sama pengarangnya. Bapakku kan juga org pesantren. So aku tau juga dunia pesantren

     
  4. admin

    July 12, 2009 at 8:31 pm

    bruntung If :) meski Bapak orang pesantren malah minjemin buku ini. Bukan melarang anaknya buat baca buku ini, kya di cerita di film ini…

     
  5. Rohman

    June 18, 2010 at 3:03 pm

    hmm…..ulasan yg jujur dan apa adanya….saya suka…saya suka….

     
  6. admin

    June 19, 2010 at 10:26 am

    hanya suara hati kok mas.
    wah, menjelajah ke blog-ku juga nih, nemu ajah :-D ada blog juga nggak nih? biar bisa nge-link, jangan malu2 share :-)