Semrawutnya Lalu Lintas di Bali

by admin on July 20, 2010

Selama hampir tiga tahun tinggal di Bali, cuma satu hal yang membuat saya selalu mengeluh, marah dan seringkali memaki. Hal itu adalah lalu lintas berikut isinya. Seperti pagi ini contohnya, persimpangan di Simpang Siur dari arah Gelogor Carik dengan seenaknya ditutup oleh Bapak Polisi Yang Terhormat. Alasannya tiada lain dan tiada bukan pasti adalah Pejabat Yang Nggak Kalah Terhormat itu mau lewat. Dan sudah lebih pasti lagi yang terkena imbasnya adalah rakyat kecil seperti saya ini yang seringkali disebut-sebut dan dibela-bela semasa kampanye partai atau pemilihan pejabat-pejabat itu. Walhasil saya harus memutar arah dulu untuk bisa kembali ke jalur awal yang harus saya lalui. Itu baru satu saja contoh kasus yang membuat saya naik pitam di pagi hari. Kalau pulang kerja, sekitar pukul enam sore, juga selalu ada saja hal-hal di jalan yang membuat saya geram dan geram (maklum hanya bisa geram saja selama ini).

Kalau dipikir-pikir lagi, memang percuma jadi pengemudi/pengendara yang taat di tengah lalu lintas Bali yang amat menyedihkan ini. Menjadi pengemudi yang taat aturan malah sengsara. Mau mengeluh (atau lebih tepatnya mengadu) ke Kepolisian? Kinerja mereka saja masih banyak bobroknya. Beberapa bukti nyatanya adalah sebagai berikut:

1. Hampir semua lampu lalu lintas di Bali ini kacau. Intinya percuma pakai lampu lalu lintas kalau malah mencelakakan pengguna jalan. Mungkin DLLAJ Bali masih perlu studi banding tentang lampu merah atau bahkan belajar dasar-dasar peraturan lalu lintas dari nol.

2.  Sebagian besar rambu-rambu lalu lintas di Bali ini hanya pajangan belaka. Boleh dicek sepanjang Jalan Legian, kendaraan baik mobil maupun motor diparkir di sepanjang sisi jalan yang jelas-jelas terdapat rambu S coret atau P coret. Yang lebih ironisnya lagi, pasti ada kendaraan yang berhenti tepat di depan rambu dilarang parkir atau stop itu. Hal ini tidak hanya berlaku pada jalanan kecil seperti di area Legian, namun juga seringkali di jalan utama, seperti By Pass Ngurah Rai. Rambu dilarang memutar di tengah-tengah marka pun dengan mudahnya dilanggar. Yang lebih mengagetkan lagi, polisinya ya diam saja begitu. Lebih baik rambu-rambu itu semua dicabut dan diloak sajalah. Lebih bermanfaat sepertinya. Meski resikonya jalanan di Bali ini jadi lebih lengang karena tanpa hiasan rambu-rambu lalu lintas. :D

3. Bebas helm. Bebas tidak memakai helm? Iya. Asalkan kita pakai baju adat Bali (seolah mau beribadah ke pura) atau baju muslim (berjilbab/berpeci), meskipun tidak pakai helm tidak akan ditilang. Saya rasa ini hanya terjadi di Bali, satu-satunya di dunia. Bahkan untuk kawasan tertentu (baca: sekitar area kompleks tentara) juga bebas helm. Entah aturan lalu lintas mana yang dianut di Bali ini. Kalau masih perlu bukti nyata kesemrawutan lalu lintas di Bali, boleh langsung dibuktikan sendiri. :D Semrawutnya belum lagi didukung oleh pengguna-pengguna jalan yang sebagian besar tidak punya sopan santun dan etika di jalan raya. Hal ini tentunya merupakan sumbangsih Kepolisian yang dengan mudahnya mengeluarkan Surat Ijin Mengemudi dengan bantuan sedikit uang pelicin dan tidak pernah mendidik pengguna jalan agar lebih tertib. Ya mungkin dengan sengaja pengguna jalan tidak pernah dididik supaya lebih mudah untuk mencari kesalahan pengguna jalan sehingga untuk selanjutnya dapat dengan mudah menuai pelicin itu tadi.

Dua hal di bawah ini mungkin bisa dijadikan masukan untuk memperbaiki lalu lintas di Bali (tapi ini Versi serius ya):

- Perbaiki segala sesuatunya dari para aparat penegak hukumnya. Misal: polisi lebih tegas lagi dan benar-benar menjalankan peraturan yang ada. Kalau penegak hukumnya sudah korup dan tidak menepati peraturan, bagaimana mau mengatur dan menjaga segala sesuatunya berjalan dengan baik.

- Buat peraturan yang memang masuk akal dan dijalankan sebenar-benarnya, paling tidak berusaha untuk menjalankan. Dan bagi pelanggar peraturan harus benar-benar ditindak sesuai peraturan. Kalaupun ditindak tidak sesuai peraturan (baca: dikenakan pungli) pun sebenarnya sudah membuat si pelanggar jera. Polisi-polisi di Bali ini mungkin sudah terlalu sibuk/cukup secara materi, sampai pelanggar lalu lintas pun didiamkan saja.

Ada saran dan masukan lain untuk memperbaiki lalu lintas di Bali?

(picture: courtesy of http://t3.gstatic.com )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WordPress SEO