Tips Interview JST ADS

by admin on October 26, 2011

Interview JST (Joint Selection Team) adalah tahapan kedua dalam seleksi ADS (Australian Development Scholarship). Setelah lolos tahap seleksi dokumen, calon awardee akan menjalani seleksi berikutnya yang berupa interview/wawancara oleh JST. JST adalah team yang berisikan para profesor dari pihak universitas di Australia dan juga alumni ADS senior. Tim inilah yang nantinya menentukan lolos tidaknya para calon awardee setelah tahap interview. Ketika menerima surat pengumuman lolos tahap seleksi dokumen, ada informasi lengkap mengenai hal apa saja yang harus dipersiapkan oleh calon awardee seputar interview dan topik apa saja yang akan dibahas dalam interview JST. Menurut saya, informasi di surat pengumuman ini sudah cukup lengkap dan kita sebagai calon awardee yang harus menggali lebih dalam lagi terkait dengan bidang pendidikan masing-masing. Untuk dapat meyakinkan JST bahwa kita memang pantas menerima beasiswa yang ditawarkan, kita perlu lebih kritis untuk mampu memberi jawaban yang kuat dan lain daripada yang lain (unik). Pertama-tama, mari kita melihat kembali tujuan ADS. Pada dasarnya kita harus mampu menunjukkan bahwa tujuan kita mendapatkan beasiswa ini sejalan dengan tujuan si pemberi beasiswa. Sekalipun sebagai individu kita mempunyai banyak motivasi pribadi untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, pada sesi interview kita harus lebih selektif dalam menceritakan hal-hal tersebut.

Coba lihat contoh jawaban berikut, “Motivasi saya melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi adalah untuk meningkatkan kemampuan saya di bidang yang saya geluti, dengan harapan saya dapat mencapai posisi sebagai kepala bagian di instansi A setelah saya menyelesaikan program S2 ini.”

Dilihat dari kacamata umum, contoh di atas tersebut tidak salah sama sekali dan normal. Tapi dari kacamata JST, motivasi di atas tidak mencerminkan keinginan calon awardee untuk menyumbangkan kemampuan yang ia miliki untuk negara ini, tapi semata-mata hanya untuk kepentingan pribadinya saja.

Ketika calon awardee masuk ke ruang interview, nilai akademis bisa dikatakan tidak lagi berperan karena di sini yang dicari oleh JST adalah motivasi dan kesiapan. Kesiapan bukan hanya terletak pada hal-hal akademis, namun juga kesiapan Anda secara mental untuk belajar dan tinggal di Australia nantinya. Berikut ini beberapa tips yang mungkin kelihatan sepele, namun menurut saya penting untuk diperhatikan, berikut dengan fakta berdasarkan pengalaman saya sendiri awal Januari 2011 kemarin.

Foto diambil dari http://youre.wordpress.com

Do’s

Penampilan rapi yang wajar-wajar saja

Tidak perlu sampai berjas/berdasi. Kemeja dan celana/rok (khusus wanita!) yang rapi saja sudah cukup. Meskipun penampilan bukanlah segalanya, tapi ingatlah bahwa ‘Your first impression sometimes is quite important’.

Pengalaman saya: Saya pakai blouse kotak-kotak berwarna dominan merah dan celana jeans serta sepatu model balerina berbahan canvas, yang menurut saya sangat casual untuk ukuran interview seserius JST. Sedangkan teman-teman kebanyakan berkostum batik yang terlihat lebih formal.

Baca panduan pertanyaan interview JST dan persiapkan jawaban sejak dini

Bacalah dengan seksama semua panduan pertanyaan yang tertera pada surat pengumuman yang Anda terima. Ada waktu kurang lebih satu bulan untuk mempersiapkan jawaban apa saja yang kira-kira akan kita berikan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Carilah informasi sebanyak mungkin terkait area prioritas ADS dengan prioritas pembangunan Indonesia dan jangan lupa update dengan berita-berita terkini seputar hubungan Indonesia dan Australia. Khusus calon awardee yang berencana mengambil program research untuk S2-nya, tentunya harus berbekal lebih banyak bahan juga terkait proposal penelitian yang akan dilakukan untuk S2.

Pengalaman saya: Sebelum interview saya sudah mempersiapkan jawaban-jawaban yang meyakinkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan waktu interview. Dalam hal ini saya mempergunakan banyak sumber dari Google, website ADS, skripsi saya, sampai kontak teman yang berpengalaman dan juga kakak saya. Carilah sumber informasi sebanyak-banyaknya. Ternyata persiapan ini cukup membantu saya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan pada saat interview.

Yang membuat saya agak bingung untuk menjawab adalah ketika diajukan pertanyaan kurang lebih berbunyi begini,

What do you expect to see in Melbourne?” karena saya memilih RMIT University sebagai universitas tujuan.

Berhubung saya sebenarnya kurang sekali menggali informasi seputar kota Melbourne, akhirnya saya jawab saja kurang lebih begini,

Actually, I don’t really know about Melbourne but I heard that there are many people from different cultures all over the world in this city. I think I will have to adapt to be able to get along with some different cultures. Another thing about Melbourne is that it has four different seasons, different to Indonesia which only has two seasons, so I will have to face winter there.

Dengan pengetahuan yang minim tentang Melbourne, akhirnya bisa juga saya jawab seadanya. Lebih baik jujur di awal bahwa kita tidak tahu, sehingga pihak JST tidak berharap banyak akan jawaban kita, namun sertai juga dengan informasi yang Anda tahu. Jangan malah menjawab singkat seperti, “Saya tidak tahu” karena dengan menjawab begitu, Anda bisa dikira tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap kota di mana nantinya Anda akan tinggal. Selama hal yang Anda tidak tahu bukanlah hal krusial yang terkait dengan bidang pendidikan Anda, saya rasa bukan sebuah masalah besar.

Tunjukkan antusiasme, keseriusan dan kebulatan tekad Anda

Posisi duduk, cara bicara, tatapan mata(eye contact) Anda harus benar-benar menunjukkan antusiasme dan semangat Anda meraih beasiswa ini. Meskipun tidak perlu berlebihan juga dan jangan menunjukkan sikap ogah-ogahan/masa bodoh juga. Dari cara Anda menjelaskan, tunjukkan bahwa Anda mampu dan cukup mandiri dalam menghadapi berbagai kesulitan yang akan Anda hadapi selama studi di Australia.

Pengalaman teman: Salah seorang teman ini berencana mengambil program postgraduate by research, maka ketika interview dia membawa outline proposal penelitian yang rencananya akan dilakukannya jika nanti diterima. Pada saat interview, teman saya ini bercerita tentang rencana penelitiannya yang menarik dan menjelaskan latar belakangnya juga. JST akan melihat hal ini sebagai nilai tambah karena calon awardee dianggap menguasai benar apa yang akan diteliti dan mengerti apa tujuan penelitiannya. Terlebih lagi, teman saya ini telah memiliki kontak dengan calon profesor pembimbingnya dan persetujuan dari si profesor untuk proposal tersebut. Hal ini benar-benar menunjukkan keseriusan calon awardee, bahkan belum pasti diterima atau tidak untuk ADS tapi sudah sampai menghubungi universitas yang dituju.

Pengalaman saya: Serupa dengan pengalaman teman saya di atas, saya sudah memiliki conditional offer dari universitas ketika melamar ADS. Hal ini juga yang mungkin membuat saya lolos seleksi dokumen.

Don’ts

Terlalu banyak basa-basi

Langsung saja pada pokok pembicaraan, tidak perlu bertele-tele. Seperti contoh pengalaman saya pada point kedua di atas, tidak perlu mengelak dan malah mengarang cerita yang buntut-buntutnya bisa jadi senjata makan tuan.

Pengalaman teman: Ketika ditanya soal isu apa yang sedang hangat di Australia, salah seorang calon awardee menjawab ‘tidak tahu’ dengan alasan dia tinggal di remote area/pelosok di mana mendapat siaran televisi ataupun radio (yang kedengarannya agak terlalu berlebihan). Padahal pada saat itu di Australia sedang ada bencana banjir besar di Queensland dan mungkin hal itulah yang diharapkan menjadi jawaban oleh JST. Entah bagaimana cara dia menjawab pada saat itu, mungkin juga mempengaruhi penilaian JST.

Memberi jawaban terlalu singkat

Tidak bertele-tele bukan berarti juga singkat dalam menjawab karena  di sinilah kesempatan kita bisa menjelaskan selengkap-lengkapnya kepada JST mengenai motivasi dan latar belakang kita. Meskipun waktu interview normalnya tak sampai dari 30 menit, cobalah memberikan penjelasan secara terperinci seputar motivasi, latar belakang dan pemikiran Anda yang dapat merepresentasikan Anda. Inilah pentingnya mempersiapkan diri sebelum interview dengan mengumpulkan bahan dan memilah-milah lagi hal apa saja yang mungkin akan disampaikan dalam kesempatan berharga tersebut.

Pengalaman saya: Pada saat interview saya menceritakan latar belakang kenapa saya ingin mengambil program master di bidang fashion dan tekstil ini dan kenapa harus Australia. Pertama-tama saya menyampaikan fakta bahwa di Indonesia ini industri tekstil menyumbangkan lebih dari 20% untuk domestic income, tapi berapa banyak sih universitas yang menawarkan program teknik tekstil/manajemen fashion. Jumlahnya tidak habis dihitung dengan jumlah jari di tangan kanan saja. Entah pemerintah peduli atau tidak dengan industri ini, sepertinya tidak ada keinginan pemerintah untuk mendukung penuh industri yang potensial ini melalui penyediaan pendidikan yang baik dan relevan di bidang ini seperti di negara penghasil tekstil lainnya di dunia. Saya meyakini bahwa Indonesia bisa sebesar Cina atau India untuk industri fashion dan tekstil jika didukung dengan pendidikan yang relevan untuk bidang ini. Dan dikarenakan tidak adanya pendidikan di bidang fashion dan tekstil untuk tingkat S2 di Indonesia, maka saya ingin sekali bisa melanjutkan pendidikan saya di Australia. Saya mendapatkan rekomendasi dari universitas tempat saya menyelesaikan S1, bahwa RMIT University adalah salah satu universitas yang memiliki jurusan fashion dan tekstil yang kualitasnya sangat baik di tingkat internasional.

Menunjukkan pemikiran egosentris

Seringkali kita perlu menunjukkan kelebihan yang kita miliki pada kesempatan interview sebagai cara untuk menjual diri. Namun seperti yang saya jelaskan sebelumnya, pada interview JST, kita perlu lebih selektif dalam menentukan motivasi. Singkirkan dulu motivasi dan pemikiran positif yang hanya memberi nilai tambah bagi diri kita pribadi. Ubahlah sudut pandang Anda untuk merumuskan ide dan motivasi Anda yang dapat memberi nilai tambah bagi negara ini dan orang banyak (paling tidak bagi orang-orang di lingkungan Anda).

Pengalaman saya: Ketika ditanya apa yang akan Anda lakukan sekembalinya ke tanah air, saya yang berlatar belakang sebagai pegawai swasta ini memberanikan diri menjawab kurang lebih seperti ini, “I hope I will have an opportunity to join a Government Organisation or NGO in order to contribute and share my expertise in this particular field. By joining GO/NGO, I can easily passing on my advices/opinions to improve our local fashion/textile industry.

Begitu mendengar jawaban ini, Pak John, salah seorang JST, kembali bertanya pada saya,”Are you sure that you will work for government institution? It will be very boring compared to your current job.

O’o…rupanya Pak John meragukan cita-cita mulia saya :roll: (memang meragukan, sih). Maka saya jawab saja begini (setelah senyum malu-malu mendengar pertanyaan beliau),”Yes, I’m sure. I think this is the only way to directly improve our local fashion/textile industry and to communicate my ideas to our government.” Dan akhirnya Pak John hanya manggut-manggut. Pffiuhhh…thanks God there’s no more question :mrgreen: .

Memperlihatkan bahwa kita manja/tidak mandiri

Inilah yang saya sebutkan sebelumnya bahwa JST ingin memilih calon awardee mana yang lebih siap menerima ADS. JST melihat tingkat kemandirian kita, seberapa jauh kemampuan kita untuk bertahan hidup di negeri orang, seberapa kuat kita menghadapi permasalahan-permasalahan selama proses belajar, seberapa jauh kemampuan kita untuk memecahkan masalah ketika kita mendapatkan masalah selama di Australia. Jangan sampai terlihat manja dengan menangis di tengah-tengah interview karena pertanyaan sulit. Kalau diberi pertanyaan sulit saja sudah menangis, bagaimana mau menghadapi kesulitan yang sebenarnya ketika belajar di Australia. Pesan salah seorang senior,”Di Australia nanti kita harus memiliki mental jongos.” Hal ini memang benar karena jika kita sudah terbiasa dengan jasa asisten/pembantu di Indonesia, jangan kaget jika kita harus mengerjakan semuanya sendiri di Australia nanti.

Pengalaman teman: Cerita ini dari salah seorang kawan yang mengikuti interview JST di Papua. Ketika sedang asyik menjelaskan tentang latar belakangnya bisa sampai di Papua, tanpa disadari air matanya mengalir, tapi hal ini dikarenakan kawan saya ini amat tersentuh akan hal ironis yang terjadi di tanah Papua. Dalam kasus ini menangis mungkin malah menjadi nilai tambah karena bukan menunjukkan ketidakmandirian, namun justru menunjukkan rasa simpati dan empati yang besar. Saya pernah mendengar juga kisah gagal interview JST, kemungkinan dikarenakan si calon awardee menangis (mungkin karena gugup) ketika interview tanpa penyebab yang jelas.

Pengalaman saya: Saya bercerita bahwa saya sudah sejak SMA tidak tinggal bersama orang tua lagi demi mendapat pendidikan yang lebih baik di Jogjakarta, sedangkan orang tua saya tinggal di Balikpapan. Lalu saya menempuh pendidikan S1 di Belanda setelah lulus SMA. Saya ceritakan bahwa selain kuliah, saya juga kerja paruh waktu untuk menutup sebagian biaya hidup. Dari cerita ini, saya berharap mereka dapat melihat tingkat kemandirian saya dan bagaimana saya berusaha keras tak hanya belajar tapi juga bekerja. Akhirnya, Janelle, salah seorang dari JST, malah menanyakan saya pernah bekerja apa saja selama kuliah di Belanda. Maka lancarlah saya menceritakan semua pengalaman dari cleaning service sampai kerja di restoran. Untuk calon awardee yang mungkin tidak punya pengalaman serupa, menurut saya tetap saja bisa menceritakan pengalaman sederhana seputar kehidupan sehari-hari, misalnya, pengalaman membuat usaha taman bacaan kecil-kecilan untuk tambahan uang jajan.

Mitos

Hal-hal di bawah ini seringkali beredar di kalangan para calon awardee. Kemungkinan besar adalah hasil spekulasi para calon awardee yang sedang dag-dig-dug menunggu pengumuman :mrgreen: .

  • Interview < 20 menit (sebentar) berarti sukses & interview terlalu lama berarti gagal. Lama tidaknya sebuah interview tidak ada hubungannya dengan diterima atau tidaknya Anda.
  • Respon positif dari JST pada saat interview yang sepertinya merupakan pertanda keberhasilan tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa Anda akan lolos. Misal komen seperti ini,”Wow, you’re talented.” Jadi tunggu saja sampai pengumuman benar-benar resmi dikeluarkan dari ADS untuk bisa merasa lega.
  • Nilai IELTS yang tinggi menunjang keberhasilan. Dalam waktu yang berdekatan dengan interview JST, diselenggarakan juga tes IELTS untuk semua calon awardee. Berdasarkan kenyataan, hal ini sama sekali tidak benar. Nilai IELTS yang bagus belum tentu membuat calon awardee terbantu. Hasil tes ini hanya dijadikan parameter yang menentukan lamanya program pelatihan yang harus diikuti sebelum berangkat ke Australia. Contohnya, jika nilai IELTS seorang awardee >6.5 (no band less than 6), maka awardee wajib mengikuti pelatihan selama 6 minggu. Sedangkan awardee dengan nilai >6.5 (with any band less than 6) wajib mengikuti pelatihan selama 8 minggu.

Selamat mencoba & good luck! ;-)

7 Responses to “Tips Interview JST ADS”

  • FDHXIII says:

    Hello there! I have had lost my passion for a while, nevertheless ur writings have put me back on track again :) So, thank you for sharing and good luck for ur study.

  • admin says:

    Hi Fadhil, nice to know you. Thanks for dropping a message here. Glad to hear that you have got back on track ;)

  • Dani says:

    Tips yang bagus buat rekan-rekan yang berburu beasiswa ini. Ane JST-nya termasuk lama (kurang lebih 25-30 menit) berhubung banyak tanya soal researchnya. Tapi alhamdulillah lolos juga. Jadi, betul memang bahwa lama interview tidak ada hubungannya dengan lolos interview atau tidak :)

  • admin says:

    ADS tahun kapan gan? tahun ini juga kah? Salam kenal :)

  • icaica says:

    hai mbak, thank you so much for posting this article. berhubung besok saya harus menghadapi JST jadi iseng-iseng googling tips wawancara JST n sukses nyasar ke blog ini :D
    yah semoga saya pun happy ending seperti mbak, hehe :D

  • admin says:

    Hi Ica, sukses ya untuk interview-nya :-) smoga tips-nya bermanfaat.

Trackbacks & Pings

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WordPress SEO